Loading...

20 Aturan Membuat Desain yang Baik #1


Dalam melakukan sebuah perancangan desain, kita sebagai seorang desainer harus mengetahui beberapa hal atau aturan yang dapat membuat karya rancangan desain kita menjadi lebih baik. Berikut ini saya coba paparkan apa-apa saja “20 aturan” tersebut. Perlu diingat bahwa memang aturan-aturan tersebut dapat kita langgar, namun tetap saja semua aturan tadi  tidak akan bisa kita abaikan.
Loading...

“Rules can be broken but never ignored”

David Jury, Typographer &Author



1. Karya Desain Harus Memiliki Konsep

Apabila dalam sebuah karya desain tidak memiliki pesan yang hendak disampaikan, tidak ada cerita, tidak ada gagasan dan narasi, atau tidak memiliki tujuan maka karya tersebut sangat sulit untuk disebut sebagai sebuah karya desain. Tidak peduli sebagus apapun hasil tampilan visualnya, ketika sebuah desain tidak memiliki semua aspek tadi seluruh usaha perancangan akan menjadi sia-sia saja. Karya desain yang baik haruslah memiliki konsep yang melekat kuat, tujuan serta dapat memberi manfaat bagi audience-nya.

2. Berkomunikasilah – Jangan Membuat Dekorasi

Masih berhubungan dengan aturan nomor satu diatas, bahwa setiap bentuk yang digunakan dalam sebuah visual haruslah memiliki tujuan serta fungsi yang mendukung konsep desain tersebut. Tidak peduli bentuk yang digunakan sangat sederhana atau rumit, yang terpenting kita harus bijaksana dan memiliki pertimbangan dalam menentukan dan memakai suatu bentuk grafis.

3. Bahasa Visual Sebagai Satu Kesatuan

Pastikan semua elemen desain yang berada dalam sebuah karya desain berbicara dalam ruang lingkup yang sama. Elemen desain seperti jenis font, warna, bentuk, fotografi, ilustrasi background dan lain sebagainya harus selaras dan konsisten sehingga dapat digunakan secara maksimal sebagai representasi konsep yang hendak dikomunikasikan kepada audience-nya.

4. Gunakan Maksimal Tiga Jenis Huruf dari Keluarga yang Sama

Penggunaan jenis huruf (font) dalam sebuah karya desain perlu dibatasi sesuai dengan tujuan dari desain itu sendiri. Sebelum melakukan pemilihan jenis huruf, sebaiknya kita menyadari secara tepat tujuan dari desain yang akan kita buat. Jika kita merasa kesulitan dalam menentukan jenis font apa yang hendak dipakai, kita harus mundur dulu satu langkah dan berpikir mengenai karakteristik dari konsep visual kita. 

Tips yang bisa kita lakukan dalam memilih jenis huruf adalah gunakan huruf-huruf dari satu keluarga yang sama. Misalkan kita menetapkan menggunakan jenis huruf Arial, maka kita dapat menggunakan jenis-jenis Arial lainnya sebagai variasi (Arial Black, Arial Narrow, Arial Rounded, Arial Unicode MS). Oiya dua hal kesalahan para desainer adalah: pertama, terlalu malas mencari huruf yang dianggap paling sesuai dengan konsep desain, padahal huruf memiliki jenis yang sangat banyak. 

Sebagai acuan kita bisa membeli CD/DVD yang berisi kumpulan huruf atau dengan mudah bisa mengunduh dari internet. Kedua, para desainer seringkali tidak dapat menahan diri untuk menggunakan berbagai jenis huruf dalam satu layout desain, yang pada akhirnya justru akan membuat tampilan visual desain tidak sejalan dengan konsep awal yang direncanakan. Penggunaan terlalu banyak jenis font yang berbeda akan mengakibatkan audience menjadi bingung dan mata akan lebih cepat lelah. 

5. Manfaatkan Focal Point

Menarik perhatian audience merupakan salah satu faktor utama yang sangat penting, mengapa? Karena hanya dengan mendapatkan perhatianlah, maka audience akan melihat hasil karya desain kita. Pusat perhatian atau Focal Point dapat diciptakan dari permainan kata-kata, ukuran, jenis font, perbedaan warna dan variasi penempatan atau layout. Setelah audience melayangkan pandangannya pada Focal Point yang kita ciptakan, maka langkah selanjutnya adalah menggiring mata mereka sesuai dengan hirarki atau urutan baca. Misalkan saja dalam sebuah leaflet sebuah toko grosir yang akan kita buat menjadi Focal Point adalah permainan kata “DISKON hingga 75%!” atau “GRATIS pembelian kedua!!” dan sebagainya. Selanjutnya audience akan merasa tertarik dengan Focal Point yang kita buat tadi dan kemudian melanjutkan membaca isi atau konten dalam leaflet tersebut.

6. Gunakan Warna Sesuai Kebutuhan

Elemen warna merupakan salah satu nyawa desain grafis, mengapa? Karena warna memiliki makna tertentu dan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam karya desain kita. Warna merupakan salah satu alat yang kita gunakan untuk menyampaikan maksud serta mengkomunikasikan tujuan atau konsep desain. Maka dari itu kita sebaiknya sangat peka dan memiliki pengetahuan akan makna warna agar desain yang kita kerjakan tetap berjalan pada pondasi konsep awal. Makna warna secara psikologis dapat Anda baca disini. Intinya adalah gunakan warna seperlunya saja, anggapan bahwa banyak warna akan membuat desain Anda lebih indah belum tentu seratus persen tepat. Bahasan mengenai Psikologi Warna dapat dibaca disini 😉

7. Desain ‘Sederhana?’ Mengapa Tidak?

Mungkin Sobat bloggers pernah mendengar istilah “Less is more“, yang merupakan sebuah  pemikiran dari aliran Modernisme yang menjunjung ‘kesederhanaan’ setiap elemen-elemen grafis yang dipakai. Sebagai ilustrasi dalam sebuah layout desain yang penuh, karena terlalu banyak bentuk geomtrik yang dipakai, terlalu banyak menggunakan jenis huruf yang berbeda dan terlalu banyak menggunakan warna. Bisa dibayangkan bahwa setiap elemen tadi masing-masing ‘berteriak’ minta diperhatikan oleh audience-nya, namun jika kita bisa menahan diri untuk membatasi penggunaan elemen grafis secara bijak, maka audience akan dengan merasa nyaman menikmati setiap sudut, bentuk dan warna yang kita gunakan.

Siapapun bisa melakukan rancangan desain dengan menggunakan banyak elemen grafis, namun hanya sedikit orang saja yang mampu menggunakan elemen grafis secara bijak dan tepat.

8. Manfaatkan Ruang Negatif

Ruang negatif juga sering disebut sebagai ruang putih (meskipun seringkali disekitarnya belum tentu berwarna putih) tidak kalah penting dengan semua elemen desain yang berada bersama ruang putih tersebut (elemen desain lainnya). Hal tersebut bisa dibenarkan, karena ruang putih tadi bisa berfungsi sebagai tempat mata kita untuk beristirahat. Ruang putih harus bisa kita oleh sedemikian rupa, sama halnya ketika kita mengolah tata letak elemen foto, tipografi dan sebagainya.

9. Manfaatkan Huruf Sebagai Gambar

Selama ini ada anggapan bahwa tipografi hanyalah dapat digunakan sebagai pendukung desain saja. Penggunaannya juga jadi dibatasi hanya sekedar mengisi headline, subheadline dan body-copy. Perlu diingat bahwa tipografi juga merupakan salah satu unsur penting dalam dunia desain grafis, sehingga penggunaannya bisa di tingkatkan seoptimal mungkin. Ya, mungkin salah satu caranya adalah menggunakan tipografi sebagai image/gambar.

10. Huruf adalah Huruf Hanya Jika “Bersahabat”

Huruf yang baik adalah huruf yang dapat terbaca dengan baik pula. Karena memang begitulah takdir yang dimiliki oleh huruf. Fungsi utamanya adalah sebagai media penyampaian pesan antara desainer kepada target audience-nya. Aturan ini sedikit berbeda dengan aturan nomor sembilan di atas, kalau kita menerapkan huruf sebagai gambar – kadang kala kita tidak terlalu mempermasalahkan keterbacaan huruf tersebut. Namun sebaliknya, disini huruf dituntut sebagaimana jati dirinya, yaitu harus dapat dibaca. Seperti telah sedikit disinggung sedikit, bahwa pemilihan jenis huruf atau tipografi haruslah memiliki karakter yang kuat, karena karakter tipografi yang kuat akan membangun jiwa serta melahirkan emosi mendalam bagi yang menikmatinya.

Silakan mampir disini ya untuk pembahasan bagian  kedua 🙂

sumber: disunting seperlunya dari 

Design Elements – a graphic style manual 

– Timothy Samara





Gagaspedia.com

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*