Loading...

10 Tipe Klien yang “Nakal”


Hai Sobat Bloggers, kali ini saya akan mencoba membahas mengenai tipe-tipe klien yang dianggap memiliki sifat “nakal”, khususnya bagi Anda yang baru memulai berkecimpung di dunia freelance. Okay Sobat Bloggers mari kita kenali 10 tipe klien “nakal” tersebut.
Loading...

1. Klien yang Selalu Meminta “Free Sample”

Tipe Klien seperti ini biasanya akan meminta contoh desain yang orisinil terlebih dahulu, bahkan sebelum terjadi kesepakatan pekerjaan. Hal semacam ini perlu kita waspadai karena bisa saja hal tersebut merupakan cara klien untuk mendapatkan desain secara cuma-cuma. Menurut saya dari sudut pandang klien memang tidak bisa dipungkiri jikalau klien ingin melihat draft desain kita, namun kita memiliki portofolio karya desaon yang pernah kita kerjakan sebelumnya, yang berfungsi sebagai galeri contoh. Jadi sebenarnya kita tidak wajib membuatkan klien contoh desain untuk proyek yang akan dikerjakan, kita cukup menunjukkan portofolio kita saja bukan? ๐Ÿ˜‰

2. Klien yang Memberi Penambahan Brief

Tipe Klien seperti ini biasanya akan memberikan brief proyek yang kita anggap pengerjaan desainnya cukup ringan, dengan demikian kita akan mengajukan rincian biaya yang adil juga (biasanya kecil). Ketika masalah harga telah disetujui, biasanya klien akan memberikan brief-brief pekerjaan tambahan di tengah-tengah pengerjaan, dengan alasan lupa bahwa detail pengerjaan meliputi hal-hal lain. Intinya adalah bahwa klien akan mencoba mendapatkan kuantitas pengerjaan yang lebih banyak dengan harga desain pada pengajuan awal yang telah disetujui bersama.

ย 

3. Klien yang Bingung

Tipe Klien seperti ini biasanya memiliki banyak sekali visi terhadap desain yang akan dibuat. Biasanya klien tersebut akan berbicara, “Saya akan tahu desain yang cocok jika nanti saya sudah melihatnya”. Hal tersebut sangat dapat menyulitkan kita sebagai desainer, karena apa yang ada di benak sang klien sulit ditebak, ia akan sulit untuk merasa puas. Sehingga jadwal kerja desain yang telah disepakati serta efort kerja kita akan otomatis lebih besar. Dan belum tentu setelah kita penuhi permintaan klien, ia akan merasa cocok dan puas dengan desain kita ๐Ÿ˜€

4. Klien yang Hanya Minta Tolong

Tipe Klien seperti ini biasanya memberikan kesan bahwa proyek yang akan dikerjakan seakan-akan memiliki nilai tinggi dan hebat. Namun biasanya juga dari pembicaraan akan mudah diketahui bahwa ujung-ujungnya klien kita ini hanya membutuhkan pertolongan kita untuk membuat desain secara gratis. Ya, sebenarnya yang klien ini butuhkan adalah desainer yang berpredikat juga sebagai pekerja sukarela :))

5. Klien yang Super Sibuk

Tipikal Klien seperti ini biasanya sangat sibuk, sulit dihubungi, sulit ditemui dan kalaupun kita sudah sepakat untuk bertemu biasanya beliau selalu membatalkan dan mengundur pertemuan tersebut dengan berbagai alasan. Namun jangan kaget jika sewaktu-waktu beliau tiba-tiba bertanya mengenai progres desain kita. Tipe klien seperti ini saya anggap sebagai klien yang kurang menghargai perusahaannya sendiri. Sebab pekerjaan yang diberikan kepada kita tidak dianggap sebagai prioritas, padahal proyek tersebut beliau butuhkan untuk dirinya atau perusahaannya sendiri bukan?

6. Klien yang Posesif

Kebalikan dari Klien yang super sibuk, tipe klien ini biasanya sangat-sangat posesif. Beliau selalu “hadir” menghubungi kita hampir setiap saat. Menelepon, mengirim email bahkan kalau bisa beliau akan menunggui kita mengerjakan desain langsung bersamanya.ย 

7. Klien yang Selalu Merevisi

Nah menurut saya tipe klien yang satu ini paling sering ditemui. Biasanya klien tersebut akan selalu memberikan revisi terhadap desain kita. Baik mulai dari tahap konsep, desain draft awal, bahkan ketika desain sudah masuk ke tahap final desain (Final Artwrok), beliau akan terus melakukan revisi. Dan hal-hal yang direvisi seringkali dimulai dari bobot desain yang dianggap sepele (tidak direvisi juga tidak apa-apa / mengada-ngada) hingga hal-hal yang memang harus direvisi.ย 

Menurut saya, mungkin tindakan klien ini disebabkan oleh: beliau tidak percaya terhadap kemampuan kita sebagai desainer; beliau merasa desain kita selalu buruk sehingga tidak sesuai dengan apa yang ada dibenaknya; klien merasa bingung karena terlalu banyak ide-ide yang bermunculan di benaknya ย (poin 3 diatas); atau bahkan beliau terus menerus melakukan revisi berdasarkan hanya ingin menunjukkan siapa yang berkuasa (konsumen adalah raja). Hal ini bisa dicegah jika kita secara jelas memberikan ketentuan mengenai jumlah maksimal revisi desain ketika kita mengajukan anggaran biaya awal ๐Ÿ˜‰

8. Klien yang Senang Bergosip

Kedekatan kita dengan klien memang penting, tapi sebaiknya dilakukan masih dalam tahap profesionalisme kerja saja. Tipe Klien yang senang bergosip biasanya akan memberitahu kepada kita mengenai keburukan atau kekurangan dari atasan, rekan kerja bahkan desainer sebelumnya yang beliau pernah kontrak. Ikut-ikutan bergosip bahkan terlalu terbuka membeberkan tentang kekurangan kita sebaiknya dihindari, karena ada kemungkinan beliau juga akan bergosip tentang diri kita kepada orang lain, iya kan? ๐Ÿ™‚

9. Klien yang Sulit Membayar

Tipe Klien seperti ini biasanya nampak seperti klien normal pada umumnya, sampai saat dimana surat penagihan biaya dikirmkan kepada beliau. Biasanya beliau akan memberikan berbagai macam alasan untuk tidak membayar tepat waktu. Misalkan uang anggaran desain belum turun, atau terpakai dulu untuk keperluan lain yang lebih darurat. Apapun alasan yang beliau berikan sebaiknya kita tetap sabar dalam melakukan “follow up” penagihan dengan kepala dingin dan bukan dengan emosi. Untuk mengurangi resiko seperti ini ada baiknya dalam surat perjanjian kerja sama, kita mencantumkan ketentuan bahwa pembayaran desain dibagi ke dalam tiga tahap (misalkan). Tahap pertama untuk tanda jadi (down payment), tahap kedua ketika pengerjaan desain sudah memasuki tahap X% dan pembayaran ketiga dilakukan ketika desain sudah dianggap final (final artwork).

10. Klien yang Menekan Hargaย 

Tipe klien demikian sering kita temui, biasanya beliau akan menekan, menawar bahkan membandingkan biaya proyek yang kita dengan desainer lain. Biasanya jawaban umum yang dapat kita berikan jika beliau membandingkan dengan desainer yang lebih murah adalah, “Jika Anda menemukan seseorang yang dapat mengerjakan desain tersebut dengan harga yang lebih murah, silakan Anda pesan desain ke orang tersebut” :))

Okay Sobat Bloggers, tadi kita sudah mengetahui beberapa tipe klien dengan sifat-sifatnya, berikut ini adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi Klien yang “Nakal” tersebut:

1. Sebaiknya kita mengetahui secara pasti terlebih dahulu siapa klien kita. Kita dapat mencari informasi tersebut dari rekan sesama desainer yang sudah terlebih dahulu bekerja dengan klien tersebut.ย 

2. Sebaiknya semua kebutuhan desain kita diskusikan terlebih dahulu sebelum kita dan klien sepakat menandatangani surat perjanjian kerjasama.

3. Jujur pada diri sendiri, jangan menerima proyek dari klien hanya berdasarkan keputusasaan kita semata.

4. Ikuti kata hati kita, jangan menerima proyek jika kita memiliki perasaan yang tidak enak terhadap klien tersebut.

5. Perhatikan dengan seksama setiap kemauan klien, kita bisa menangkap sinyal-sinyal tipe klien di atas hanya dari pembicaraan kita dengan klien.

Bagaimana dengan Anda, Sobat Bloggers? Apakah Anda memiliki pengalaman “unik” dengan klien-klien diatas? atau masih adakah tipe klien lainnya yang belum saya sebutkan diatas? atau mungkin Anda adalah salah satu klien diatas? silakan share disini ya ๐Ÿ˜‰





Gagaspedia.com

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*